
Banyak yang luput dari pemikiran kita tentang dunia IT di
Indonesia, bagaimanakah kemajuan IT di wilayah barat? pastinya sudah
berkembang pesat terutama di pulau jawa apalagi di kota-kota besar
seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya tentunya tidak
sulit mencari buku referensi untuk memperdalam pengetahuan bahkan untuk
menambah skill yang kita miliki, tidak ada alasan untuk tidak menambah
pengetahuan kita karena jaringan internet sangat mudah di dapat dari
yang berbayar hingga yang FREE sangat mudah di jumpai di kota-kota
besar. Namun pernahkah terfikir bagaimana perkembangan IT di wilayah
Timur Nusantara seperti NTB, NTT, Maluku, bahkan Papua? Pastinya sangat
sedikit yang memperhatikanya, lalu bagaimana perjuangan kaum muda yang
ingin melek IT di sana? Beberapa waktu lalu saya berkesempatan
mewawancarai salah satu komunitas IT dari Timur Nusantara tepatnya
berasal dari kota Ternate Maluku Utara.
Awal berdiri di tahun 2011-2012 perkembangan gadget dan penggunaan serta pengembang teknologi mulai bermunculan, Muhammad Muzammil yang pada waktu itu berkecimpung di dunia hacking dan juga termasuk salah satu member dari forum hacker di Indonesia punya kenalan didunia maya dan kebetulan beberapa membernya juga berdomisili sama yaitu di Ternate, beberapa namanya ariel devil prada, marlon portgas de ace. mereka ngatur jadwal buat ngopi darat, singkatnya pembahasan mereka soal perkembangan teknologi dari daerah yang minim akan hal ini. dibuatlah 2 buah nama yaitu Codernate dan Zona IT Ternate. Codernate menjadi forum online sekaligus rumah produksi dan Zona IT Sebagai wadah komunitas onside buat pelajar dan masyarakat umum yang ingin tahu dan ngerti tentang teknologi, komunitas yang sudah memiliki kurang-lebih 600 member ini memiliki sebuah produk yang pengembanganya masih dilakukan hingga saat ini, produk ini berupa Distro LINUX turunan dari Ubuntu, dengan tidak memandang keterbatasan distro ini justru di bangun untuk melawan keterbatasan tersebut.
“Pada awalnya sebagai pengguna opensource pada umumnya, kemunculan ide dari salah satu member yang namanya Ridwan Muhammad, karena Linux saat pertama kali diinstall harus melalui tahapan update, upgrade sama installasi optional app-nya, tapi yang jadi masalah disini adalah di Indonesia Timur jaringan internet nggak semudah dan secepat daerah lain di indonesia. Muncul deh pemikiran buat LINUX yang kalo diinstall sama pengguna baru udah nggak ribet lagi harus ngelakuin hal prosedural yg ada. Jadi Codernate Linux itu dibuat udah ready untuk dipake oleh pengguna yang minim koneksi internet.” -kutip salah seorang anggota komunitas yang bersedia saya wawancarai yang juga menjadi salah satu pengembang Distro.
Bagaimana cara yang dilakukan komunitas ini untuk memasarkan karyanya terbilang sangat interaktif dikarenakan komunitas ini tidak hanya membagikan pengetahuan IT namun komunitas ini juga mengajak masyarakat untuk mengetahui akan legalitas suatu Software, masyarakat yang jujur dalam penggunaan teknologi, dukungan terhadap talenta anak muda, produktifitas daerah dan hal-hal yang mendasar, dapur pacu untuk membangung kemandirian bangsa yang berbasis pada kearifan lokal melalui alih teknologi untuk menghadapi tantangan dan persaingan global, begitulah cara yang dilakukan komunitas yang mengacu pada Grass-Root-Innovation. Distro yang sudah menggunakan bahasa daerahnya ini suadah mencapai angka rilis 2.0 “Fangare”, kata “Fangare” sendiri berarti “Dia Laki-laki” dalam bahasa Maluku Utara dan beberapa versi sebelumnya yaitu 1.5 “Dodorobe” yang atinya “Senjata dari Bambu” dan 1.0 “Chacarlak” yang berarti “Kecoa”.
Sebelum membahas lebih jauh tentang distro ini mari kita berkenalan dangan pengembangnya :
Awal berdiri di tahun 2011-2012 perkembangan gadget dan penggunaan serta pengembang teknologi mulai bermunculan, Muhammad Muzammil yang pada waktu itu berkecimpung di dunia hacking dan juga termasuk salah satu member dari forum hacker di Indonesia punya kenalan didunia maya dan kebetulan beberapa membernya juga berdomisili sama yaitu di Ternate, beberapa namanya ariel devil prada, marlon portgas de ace. mereka ngatur jadwal buat ngopi darat, singkatnya pembahasan mereka soal perkembangan teknologi dari daerah yang minim akan hal ini. dibuatlah 2 buah nama yaitu Codernate dan Zona IT Ternate. Codernate menjadi forum online sekaligus rumah produksi dan Zona IT Sebagai wadah komunitas onside buat pelajar dan masyarakat umum yang ingin tahu dan ngerti tentang teknologi, komunitas yang sudah memiliki kurang-lebih 600 member ini memiliki sebuah produk yang pengembanganya masih dilakukan hingga saat ini, produk ini berupa Distro LINUX turunan dari Ubuntu, dengan tidak memandang keterbatasan distro ini justru di bangun untuk melawan keterbatasan tersebut.
“Pada awalnya sebagai pengguna opensource pada umumnya, kemunculan ide dari salah satu member yang namanya Ridwan Muhammad, karena Linux saat pertama kali diinstall harus melalui tahapan update, upgrade sama installasi optional app-nya, tapi yang jadi masalah disini adalah di Indonesia Timur jaringan internet nggak semudah dan secepat daerah lain di indonesia. Muncul deh pemikiran buat LINUX yang kalo diinstall sama pengguna baru udah nggak ribet lagi harus ngelakuin hal prosedural yg ada. Jadi Codernate Linux itu dibuat udah ready untuk dipake oleh pengguna yang minim koneksi internet.” -kutip salah seorang anggota komunitas yang bersedia saya wawancarai yang juga menjadi salah satu pengembang Distro.
Bagaimana cara yang dilakukan komunitas ini untuk memasarkan karyanya terbilang sangat interaktif dikarenakan komunitas ini tidak hanya membagikan pengetahuan IT namun komunitas ini juga mengajak masyarakat untuk mengetahui akan legalitas suatu Software, masyarakat yang jujur dalam penggunaan teknologi, dukungan terhadap talenta anak muda, produktifitas daerah dan hal-hal yang mendasar, dapur pacu untuk membangung kemandirian bangsa yang berbasis pada kearifan lokal melalui alih teknologi untuk menghadapi tantangan dan persaingan global, begitulah cara yang dilakukan komunitas yang mengacu pada Grass-Root-Innovation. Distro yang sudah menggunakan bahasa daerahnya ini suadah mencapai angka rilis 2.0 “Fangare”, kata “Fangare” sendiri berarti “Dia Laki-laki” dalam bahasa Maluku Utara dan beberapa versi sebelumnya yaitu 1.5 “Dodorobe” yang atinya “Senjata dari Bambu” dan 1.0 “Chacarlak” yang berarti “Kecoa”.
Sebelum membahas lebih jauh tentang distro ini mari kita berkenalan dangan pengembangnya :
- Muhammad Muzammil (Project Manager)
- Ridwan Muhammad (Developper)
- Muhammad Faizal (Developper)
- Abdul Djalil Djayali (Design, Teknis & Maintenance)
- Grub theme sudah menggunakan grub theme Codernate.
- Plymouth sudah menggunakan plymouth-nya Codernate.
- Desktop Environment-nya kami pakai Cinnamon dengan themenya Codernamon.
- Gtk 3.0 sudah menggunakan CoderNix.
- Icon theme sudah menggunakan CoderCon.
- Wallpaper defaultnya menggunakan Origami flatnya Codernate.
- Sublime User Theme sudah menggunakan JLCNate-Theme.
- Custom Startup notification.
- Kernel sudah menggunakan versi 4.
- Telegram untuk client chat.
0 komentar:
Posting Komentar